Sebuah kapal perang serang cepat
Angkatan Laut Kerajaan Malaysia, tenggelam sepenuhnya di lepas pantai Johor
pada Minggu, 25 Agustus 2024 hingga memicu operasi penyelamatan pada Senin, 26 Agustus
2024. Melalui pernyataan, Angkatan Laut Kerajaan Malaysia (TDLM) menuturkan
Kapal KD Pendekar tenggelam pada pukul 15.54 waktu setempat sekitar dua mil
laut di tenggara Tanjung Penyusop di Kota Tinggi.
Angkatan laut memaparkan semua 39
awak kapal berhasil selamat dan dievakuasi sebelum kapal benar-benar tenggelam.
Tidak ada korban luka yang dilaporkan. Namun ada seorang penyelam pembersih
ranjau Malaysia tewas pada Rabu (28/8/2024) saat melakukan penyelamatan di
kapal angkatan laut KD Pendekar yang karam. Dalam pernyataan yang dibagikan
oleh kantor berita Bernama, Angkatan Laut Kerajaan Malaysia (TLDM)
mengonfirmasi kematian Sersan I Arman San Hermansa.
Arman adalah seorang spesialis yang
ditugaskan untuk memberikan penjagaan di sekitar bangkai kapal KD Pendekar,
guna memastikan keamanan peralatan sensitif.
Ia diyakini tenggelam saat memasang pelampung di lokasi tersebut, kata
laporan itu. Otopsi akan dilakukan di Rumah Sakit Sultan Ismail di Johor
sebelum dimakamkan di Sabah. Semua
bantuan dan dukungan akan diberikan kepada keluarganya selama masa sulit ini,
angkatan laut menambahkan.
Kapal perang KD Pendekar diyakini
telah menabrak benda di bawah air yang belum diketahui penyebabnya. AL Malaysia
memaparkan insiden itu menyebabkan kebocoran pada kapal yang mengakibatkan
"banjir parah". Kebocoran pertama kali terdeteksi di ruang mesin
kapal, menyebar dengan cepat meskipun ada upaya untuk mengendalikan dan
menstabilkan kapal.
Dibangun oleh Galangan Kapal
Karlskrona Varvet di Swedia, kapal tersebut diluncurkan pada 11 November 1978,
dan ditugaskan ke armada Angkatan Laut Malaysia pada 27 Juli 1979. KD Pendekar Berukuran
panjang 43,6 meter, kapal tersebut dipersenjatai dengan meriam utama Bofors 57
mm, meriam sekunder 40 mm, dan rudal antikapal Exocet.
Menteri Pertahanan Malaysia Khaled
Nordin mengatakan pada 26 Agustus bahwa inspeksi akan dilakukan terhadap sepertiga
armada angkatan laut. Ia juga menambahkan bahwa angkatan laut memiliki 10
hingga 15 kapal yang berusia lebih dari 40 tahun,
RMN menambahkan bahwa mereka akan segera membentuk badan investigasi khusus untuk mengidentifikasi sumber insiden tersebut. RMN juga berterima kasih kepada lembaga-lembaga yang terlibat dalam memberikan bantuan dengan cepat, yaitu Badan Penegakan Hukum Maritim Malaysia (MMEA), Kepolisian Kerajaan Malaysia (PDRM), dan masyarakat maritim di dekatnya.